Kajian Sambut Ramadan bertajuk “Menyambut Ramadhan dengan Hati dan Teladan” digelar di Masjid Pondok Pesantren Qur’an Cahaya, Desa Rias, Toboali, Bangka Selatan, pada Ahad pagi, 1 Februari 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini menghadirkan Ustzh. Yuanita, M.Pd, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, sebagai narasumber utama. Kajian ini diikuti para orang tua, pendidik, dan jamaah dengan tujuan mempersiapkan keluarga Muslim menyambut bulan suci Ramadan secara lebih sadar, terarah, dan bermakna, khususnya di tengah tantangan era digital.
Dalam pemaparannya, Ustzh. Yuanita menegaskan bahwa Ramadan sejatinya adalah madrasah keluarga. Ia mengajak para orang tua untuk tidak sekadar menyambut Ramadan sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai momentum pendidikan yang dimulai dari rumah. Menurutnya, anak-anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat. Perilaku, kebiasaan, dan cara beribadah orang tua akan menjadi contoh yang secara langsung ditiru oleh anak. Karena itu, kualitas anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.
Ia juga mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi diri menjelang Ramadan. Ustzh. Yuanita menggambarkan perasaan lega seseorang ketika melakukan perjalanan jauh dengan bekal yang cukup, lalu mengajukan pertanyaan reflektif, apakah kita juga merasa gelisah dan mengadu kepada Allah ketika Ramadan akan datang, sementara bekal iman dan amal kita belum dipersiapkan dengan baik. Ramadan kali ini, menurutnya, harus dimulai dari keluarga dengan kesadaran bahwa orang tua perlu terus belajar, banyak beristighfar ketika melihat kekurangan pada anak, dan tidak pernah merasa puas dalam menuntut ilmu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan tarbiyah keluarga yang mencakup pendidikan keimanan, pendidikan akhlak, dan pendidikan sosial. Dalam proses ini, orang tua berperan sebagai aktor utama. Ayah dan ibu dituntut untuk konsisten dalam sikap dan teladan, serta membangun komunikasi spiritual yang positif di rumah, dengan mengajarkan anak untuk menggantungkan harapan dan permintaan hanya kepada Allah.
Ustzh. Yuanita juga mengangkat berbagai teladan pendidikan dalam Islam. Rasulullah SAW disebut sebagai pendidik yang mengedepankan kasih sayang dan keteladanan tanpa paksaan. Abdullah bin Abbas menjadi contoh pendidikan anak melalui dialog, doa, dan penjelasan makna ibadah. Luqmanul Hakim dikenal dengan pendidikan tauhid yang dilakukan secara bertahap, sementara Ali bin Abi Thalib mengingatkan agar anak dididik sesuai dengan zamannya, sebuah nasihat yang dinilai sangat relevan hingga kini.
Dalam konteks kekinian, ia menekankan pentingnya pendidikan anak berdasarkan tahap perkembangan. Anak generasi alpha, misalnya, lebih efektif dididik melalui teladan dan pengalaman spiritual yang positif selama Ramadan. Sementara itu, anak generasi Z yang cenderung kritis, sensitif terhadap ketidakadilan, dan sedang mencari jati diri memerlukan pendekatan dialogis. Ramadan dapat dijadikan ruang untuk berdiskusi tentang makna puasa, mengaitkan nilai agama dengan realitas kehidupan, melibatkan anak dalam kegiatan sosial, serta memberikan pengakuan terhadap pendapat mereka. Pendampingan yang penuh pemahaman dinilai lebih efektif daripada paksaan atau kontrol ketat yang justru dapat memicu penolakan.
Menjawab tantangan Ramadan di era digital, Ustzh. Yuanita menyoroti persoalan kecanduan gawai, distraksi perhatian, dan berkurangnya interaksi keluarga. Ia mendorong keluarga untuk menjadikan puasa sebagai latihan pengendalian diri digital, membatasi penggunaan gawai secara bijak tanpa konflik, serta mengganti waktu layar dengan kebersamaan keluarga yang bermakna. Orang tua, menurutnya, harus menjadi contoh etika digital, bukan hanya berperan sebagai pengatur. Selain family time, anak juga tetap perlu diberi ruang untuk me time secara seimbang.
Sebagai langkah praktis, Ustzh. Yuanita menyarankan agar keluarga menciptakan suasana spiritual di rumah menjelang Ramadan, membersihkan rumah bersama anak, membuka ruang diskusi dan obrolan, membiasakan salat berjamaah keluarga, tilawah Al-Qur’an, serta menyampaikan kisah-kisah inspiratif. Kegiatan berbagi bersama anak, apresiasi positif atas usaha mereka, dan pemantauan kesehatan selama berpuasa juga menjadi bagian penting dari pendidikan Ramadan di rumah.
Kajian Tarhib Ramadan ini ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung hangat. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan pengalaman seputar pendidikan anak di bulan Ramadan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi keluarga untuk menjadikan Ramadan bukan hanya sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai proses pendidikan keluarga yang berkelanjutan dan penuh makna.


